Bagi banyak orang diluar profesi ini, Graphic Artist atau yang lebih terkenal dengan sebutan Graphic Designer (Desainer/Perancang Grafis – pen) adalah profesi yang dianggap keren, “basah” dan dibayar mahal, santai, tidak terikat waktu, atau sangat menyenangkan. Benarkah demikian?
Sejak 2002 hingga sekarang dimana saya berkecimpung di bidang ini sebagai freelancer, anggapan-anggapan diatas memang ada juga benarnya. Kadang-kadang ketika saya berkenalan dengan seorang kolega, menyebutkan pekerjaan saya sebagai Desainer Grafis memang cukup membanggakan. tidak semua orang memiliki keahlian seperti saya saya miliki. Faktor Independensi adalah salah satunya. Terlepas dari keinginan client, I really am my own boss!. Bukan begitu?
Kecuali dengan Deadline, Profesi ini bisa dibilang tidak terikat waktu. Saya bisa bangun kapan saja saya mau, kerja kapan saja saya mau, tidak harus pake dasi dan segudang “ketidak-harusan” lain. Saya juga tidak menafikan bahwa profesi ini sangat menyenangkan karena memang sebuah seni (dalam hal ini seni grafis) adalah salah satu hobi, interest dan kesenangan saya. Jika sedang mood dan on-fire, Pekerjaan setumpukpun bisa selesai dalam waktu semalam. Saya yakin profesi-profesi lain pun serupa jika benar-benar merupakan interest dari individunya. Namun, apakah semua itu sebanding dengan kompensasi yang para Desainer Grafis (di Indonesia) terima? Read the rest of this entry »
Anda pernah menyaksikan iklan Chip Anti-Maling yang satu itu?

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang kawan lama di Yahoo! Messenger. Beliau bertanya ketika saya ajak untuk ikut menulis blog, mengapa saya harus memilih blog sebagai media untuk menulis? Mengapa tidak di surat kabar, majalah, atau media lainnya?
Recent Comments