Desainer Grafis Indonesia ; Dihargaikah?

26 04 2008

dollar brushBagi banyak orang diluar profesi ini, Graphic Artist atau yang lebih terkenal dengan sebutan Graphic Designer (Desainer/Perancang Grafis – pen) adalah profesi yang dianggap keren, “basah” dan dibayar mahal, santai, tidak terikat waktu, atau sangat menyenangkan. Benarkah demikian?

Sejak 2002 hingga sekarang dimana saya berkecimpung di bidang ini sebagai freelancer, anggapan-anggapan diatas memang ada juga benarnya. Kadang-kadang ketika saya berkenalan dengan seorang kolega, menyebutkan pekerjaan saya sebagai Desainer Grafis memang cukup membanggakan. tidak semua orang memiliki keahlian seperti saya saya miliki. Faktor Independensi adalah salah satunya. Terlepas dari keinginan client, I really am my own boss!. Bukan begitu?

Kecuali dengan Deadline, Profesi ini bisa dibilang tidak terikat waktu. Saya bisa bangun kapan saja saya mau, kerja kapan saja saya mau, tidak harus pake dasi dan segudang “ketidak-harusan” lain. Saya juga tidak menafikan bahwa profesi ini sangat menyenangkan karena memang sebuah seni (dalam hal ini seni grafis) adalah salah satu hobi, interest dan kesenangan saya. Jika sedang mood dan on-fire, Pekerjaan setumpukpun bisa selesai dalam waktu semalam. Saya yakin profesi-profesi lain pun serupa jika benar-benar merupakan interest dari individunya. Namun, apakah semua itu sebanding dengan kompensasi yang para Desainer Grafis (di Indonesia) terima? Read the rest of this entry »





Iklan RONCAR ; Taste atau Strategi?

25 04 2008

RONCAR versi SendalAnda pernah menyaksikan iklan Chip Anti-Maling yang satu itu?

Kalau iya, bagaimana pendapat anda?

Ketika saya mencoba menanyakan kepada teman-teman, komentar yang muncul sangat beragam. Ada yang bilang buruk, sangat buruk, jelek, jelek abis, amat sangat jelek, jadul, murahan, malu-maluin, kampungan, katro dan berbagai komentar negatif lain. Tapi tak satupun komentar positif yang saya dengar.

Namun, Jika pertanyaan tadi ditujukan pada saya maka jawaban yang akan saya keluarkan adalah berupa pertanyaan lagi. Pendapat saya dilihat dari sisi mana? Saya adalah orang awam di dunia seni. Tetapi jika ditinjau dari sisi seni (sinematografi), saya yakin iklan RONCAR adalah produk seni yang gagal! (Ingat, yang produk seni yang gagal itu iklannya ya!). Sama sekali tidak ada taste seni disana. Entah karena iklan ini low-budget atau karena memang itu strategi marketing dari RONCAR sendiri, Wallahu Alam

Jujur saja, melihat iklan itu membuat saya merasa berada di medio ‘90an dimana satu-satunya pilihan stasiun televisi terjangkau hanyalah TVRI. Ngga banget! Apakah sudah sedemikian low-budgetnya RONCAR hingga hanya mampu membuat iklan seperti itu? Saya pikir tidak. Durasi yang cukup lama, penempatan iklan di area primetime, dan frekuensi penayangan yang cukup intense di televisi-televisi swasta terkemuka itu dijamin memakan budget sangat besar! Apalah artinya jika dibandingkan dengan Biaya Produksi iklan (berdurasi kurang dari 5 menit) yang saya pikir tidak akan sebesar biaya penayangan iklan yang frekuensinya lumayan intense.

RONCAR Pelit? jangan tanya saya. kalo ini, saya tidak tahu sama sekali dan saya juga tidak mau bergosip! Read the rest of this entry »





Film Ayat-ayat Cinta ; Adaptasi Gagal?

24 04 2008

Ayat-ayat CIntaBismillahirrahmanirrahiim

Sebelumnya “berbicara” terlalu banyak, saya memohon maaf dulu terlebih dahulu jika ada pihak-pihak yang tidak menyukai tulisan saya ini. Ini adalah murni pendapat saya yang notabene hanyalah seorang penikmat film belaka. Anda boleh setuju atau tidak setuju. Silahkan berpendapat sesuka anda, toh setahu saya sampai saat ini, berpendapat masih gratis kok.

Baik, kita mulai saja…

Novel Ayat-ayat Cinta (AAC) karangan Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) pertama kali diperkenalkan di medio tahun 2005. Kala itu memang dunia penulisan Indonesia didominasi oleh serbuan chicklit dan teenlit dengan tema beragam. Saya sangat ingat ketika itu, memang banyak sekali chicklit dan teenlit yang beredar di pasaran buku. Ingatan saya bahkan masih segar dengan warna-warninya susunan ratusan chicklit dan teenlit dalam sebuah rak buku di sebuah Taman Bacaan di bilangan Setiabudi, Bandung. Sesuai target segmentnya yang menyasar kalangan remaja, warna-warni yang ngejreng ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi kartun vektor memang menjadi ciri khas novel-novel jenis ini.

Terus terang, saya memang sedikit tergerak untuk membaca chicklit dan teenlit (meski saya jelas-jelas bukan chick dan teen). Tapi apa yang terjadi setelah membacanya? Saya sontak berpikir, apakah dunia sastra Indonesia akan kembali padam seperti padamnya per-film-an Indonesia? Ingatan saya kembali melayang ke era 90-an dimana novel-novel Indonesia dihiasi oleh karya-karya novel picisan pengumbar syahwat.

Terbitnya novel AAC kemudian menjawab kerinduan (jika boleh disebut begitu) saya akan karya sastra domestik berkualitas. Jujur saja, meski awam sastra, menurut saya novel ini sangat bagus, sangat menyentuh dan membumi. Keterkejutan saya muncul saat membaca kabar bahwa novel AAC akan difilmkan. Pertanyaan yang pertama muncul adalah “Apakah novel ini akan ikut latah?” Ngga apa-apa kalo latah kemudian hasilnya bagus, tapi kalau ancur??? Read the rest of this entry »





Kick Ass Management

21 04 2008

Kick Ass LogoSudah menjadi cita-cita bahkan obsesi saya sejak dulu untuk mendirikan sebuah perusahaan Event Organizer. Ini mungkin berawal karena ketertarikan saya pada seni dan hiburan. Dulu, ketika diajak “bantu-bantu” pada sebuah event, saya merasakan kecocokan pada jenis pekerjaan ini. Sekalipun tanpa bayaran, waktu itu bahkan saya sangat excited dan jauh lebih sibuk (entah terlalu rajin atau apalah) ketimbang panitia yang justru seharusnya lebih bertanggung jawab pada pekerjaan yang notabene adalah pekerjaan mereka. Bukan bermaksud memuji diri, tetapi keinginan saya untuk memberikan yang terbaik bagi klien sangat berperan. Bagi saya, bukan hanya sponsor tetapi dalam hal ini pengunjung, peserta event dan semua yang terlibat dalam event adalah klien juga. Perfeksionis? Entahlah.

Keinginan untuk mendirikan event organizer itu semakin besar saat saya tinggal di Bandung. Bagaimana tidak, Bandung adalah surga event. Di setiap penjuru kota ini, begitu banyak event-event terselenggara setiap harinya. Ini adalah potensi bisnis bukan? Saya sama sekali tidak menafikan banyaknya kompetitor dan adanya banyak sekali orang yang berpikir seperti saya, tetapi saya pikir ini adalah creative business. Disini, yang menjadi komoditi utama adalah Ide dan kualitas pekerjaan. Jadi selama itu bisa di-maintain, maka saya merasa itu bukanlah sebuah masalah.

Akhirnya saya kemudian memutuskan untuk mulai bergerak. Read the rest of this entry »





Mengapa Harus Blog?

19 04 2008

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang kawan lama di Yahoo! Messenger. Beliau bertanya ketika saya ajak untuk ikut menulis blog, mengapa saya harus memilih blog sebagai media untuk menulis? Mengapa tidak di surat kabar, majalah, atau media lainnya?

Waktu itu saya secara spontan menjawab. Karena lebih mudah. Jawaban yang benar, singkat dan “menggantung” bukan? Belakangan saya juga berpikir demikian. Maka hari ini saya akan menjawab lebih detail pertanyaan kawan tersebut disini.

Jadi Mengapa Harus Blog? Read the rest of this entry »





Prolog

19 04 2008

Menikmati Free HotspotSekian lama nge-blog, akhirnya saya sampai juga pada tahap memerlukan Official Blog. Mungkin bisa dibilang gaya-gayaan, namun sepertinya memang sudah waktunya, setelah banyak sekali tulisan yang tidak termuat hanya karena saya anggap tidak sesuai dengan tema blog-blog saya sebelumnya. Perjalanan saya di dunia blogging dimulai September 2006 saat pertama kali dikenalkan dengan dunia blog yang waktu itu menurut saya hanya sebatas online diary (dan memang blog pertama yang saya lihat adalah blog seorang perempuan melankolis berisi personal diarynya). Jadi sebenarnya saya termasuk anak kemarin sore dalam dunia blogging. Mulailah saya menulis -yang mungkin bisa dikategorikan- personal blog yang berisi tentang catatan-catatan harian yang (meski dikemas lucu) tetap saja melankolis.

Namun itu juga tidak berlangsung lama. Kesibukan yang ada serta masalah koneksi internet yang tidak selalu ada membuat saya semakin lupa dan malah meninggalkan dunia blogging yang waktu itu memang tanpa motivasi tambahan (baca: uang -pen). Kembalinya saya justru terjadi di quarter akhir 2007, dimana saat itu saya akhirnya mendapatkan apa yang saya idamkan selama ini, affordable 24 hours internet connection. Terima kasih kepada kang Onno W. Purbo dan kawan-kawan beliau yang telah merintis RT/RW Net hingga bisa dinikmati seperti saat ini.

Akhirnya larutlah saya pada keasyikan baru yang mungkin anda bisa tebak. Internet! berbagai situs saya kunjungi, berbagai social networking saya coba, tidak terhitung lagi file yang pernah saya download. Semua dalam euphoria internet. Kekanak-kanakan dan sedikit kampungan memang, tapi inilah saya. Bagi saya yang seorang mahasiswa biasa (baca: pengangguran -pen), koneksi internet adalah sebuah hal yang mewah dan harus dinikmati sebaik-baiknya (mumpung!). Namun akhirnya bisa ditebak, berujung dengan kebosanan. Bagaimana tidak, setiap hari cuma bisa ber-IM ria, ngecek friendster, ngecek email, download MP3 dan sejenis kegiatan Netter biasa. Read the rest of this entry »