Film Ayat-ayat Cinta ; Adaptasi Gagal?

24 04 2008

Ayat-ayat CIntaBismillahirrahmanirrahiim

Sebelumnya “berbicara” terlalu banyak, saya memohon maaf dulu terlebih dahulu jika ada pihak-pihak yang tidak menyukai tulisan saya ini. Ini adalah murni pendapat saya yang notabene hanyalah seorang penikmat film belaka. Anda boleh setuju atau tidak setuju. Silahkan berpendapat sesuka anda, toh setahu saya sampai saat ini, berpendapat masih gratis kok.

Baik, kita mulai saja…

Novel Ayat-ayat Cinta (AAC) karangan Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) pertama kali diperkenalkan di medio tahun 2005. Kala itu memang dunia penulisan Indonesia didominasi oleh serbuan chicklit dan teenlit dengan tema beragam. Saya sangat ingat ketika itu, memang banyak sekali chicklit dan teenlit yang beredar di pasaran buku. Ingatan saya bahkan masih segar dengan warna-warninya susunan ratusan chicklit dan teenlit dalam sebuah rak buku di sebuah Taman Bacaan di bilangan Setiabudi, Bandung. Sesuai target segmentnya yang menyasar kalangan remaja, warna-warni yang ngejreng ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi kartun vektor memang menjadi ciri khas novel-novel jenis ini.

Terus terang, saya memang sedikit tergerak untuk membaca chicklit dan teenlit (meski saya jelas-jelas bukan chick dan teen). Tapi apa yang terjadi setelah membacanya? Saya sontak berpikir, apakah dunia sastra Indonesia akan kembali padam seperti padamnya per-film-an Indonesia? Ingatan saya kembali melayang ke era 90-an dimana novel-novel Indonesia dihiasi oleh karya-karya novel picisan pengumbar syahwat.

Terbitnya novel AAC kemudian menjawab kerinduan (jika boleh disebut begitu) saya akan karya sastra domestik berkualitas. Jujur saja, meski awam sastra, menurut saya novel ini sangat bagus, sangat menyentuh dan membumi. Keterkejutan saya muncul saat membaca kabar bahwa novel AAC akan difilmkan. Pertanyaan yang pertama muncul adalah “Apakah novel ini akan ikut latah?” Ngga apa-apa kalo latah kemudian hasilnya bagus, tapi kalau ancur???

Difilmkannya AAC cukup menuai banyak pro dan kontra. Saya termasuk yang kontra dengan difilmkannya AAC. Menurut saya, AAC adalah sebuah masterpiece sastra yang tidak layak untuk difilmkan. Terlalu sayang jika membiarkan keindahan perfeksi khayalan alias Theater of Mind yang susah payah dibentuk novel ini untuk dikontaminasi oleh persepsi visual. Saya bukanlah orang yang doyan bacaan sastra, tidak juga anti-film. Malah, saya adalah orang yang jarang membaca dan justru sangat suka menonton film. Namun, saya tetap menganggap novel ini adalah novel yang terlalu indah untuk dikotori oleh intervensi material-oriented dari seorang produser sinetron picisan dan antek-anteknya. Sebut saya kuno, kampungan atau apalah. Boleh! Sangat sepakat malah. Kenyataannya, saya memang lebih suka bermain-main dengan imajinasi dan persepsi saya ketimbang mengadopsi imajinasi dan persepsi dari orang lain yang belum tentu bisa mewakili maksud dari novel itu sendiri.

Kang Abik sebagai orang yang saya kagumi, Penulis brilian dan penelur karya sastra yang bukan main indahnya ini seakan tidak mampu melawan kekuatan kapitalisme dunia hiburan (baca : produser). Saya jadi ingat sebuah film karya sutradara Marc Forster yang berjudul Stranger than Fiction. Film ini kurang lebih menceritakan tentang Karen Eiffel (Emma Thompson), seorang penulis novel yang merelakan karya masterpiecenya berubah menjadi karya pasaran demi kelangsungan hidup Harold Crick (Will Ferrel), seorang lelaki paruh baya yang ternyata ditentukan oleh goresan pena dan alur yang dibuatnya. (Mohon maaf, bukan mendukung cerita fiksi yang mencoba menggambarkan manusia yang bermain sebagai Tuhan, saya hanya bermksud memberikan analogi). Bukan main pengorbanan seorang Karen Eiffel. Idealisme dan Ciri khasnya serta kesuksesan karya masterpiece yang digambarkan sudah ada di depan mata, serta merta dirombak alurnya menjadi sebuah karya sastra yang biasa-biasa saja. Tragis? Tidak! Saya rasa, itulah pengorbanan. Nah, Saya pikir novel AAC ini memang mampu merubah hidup banyak orang. Jadi apalah arti sebuah popularitas dan materi, Keindahan novel yang mampu “mengubah” orang ini yang kemudian dihancurkan oleh film yang –maaf- tidak mampu “mewakilinya”.

Alasan Penokohan, memang digunakan oleh para pengadaptasi novel ke film demi melegalkan mereka untuk memilih para pemeran yang dianggap sesuai secara fisik (visual) untuk mewakili tokoh dalam novel untuk film adaptasi tersebut. Tapi jangan lupa, novel AAC sangat sarat nilai religius. Jika tokoh yang dipilih tidak mampu mencerminkan secara psikologis para tokoh yang ada dalam novel ini, maka jangan heran jika di kemudian hari ada yang mengidentikkan aktor atau aktris yang memerankan film ini dengan tokoh yang ada dalam novel AAC. Sangat menyedihkan memang jika mendapati Aisha yang dalam novel digambarkan sedemikian tegasnya menutup aurat, justru sedang asyik mempertontonkan auratnya di depan jutaan penonton MTV. Naudzubillah!

Fahri, tokoh yang dibuat begitu suci dan “melangit”, terkesan biasa-biasa saja. Ijinkan saya mengutip lagi kutipan Bapak Prof. Laode M. Kamaluddin, PhD tentang pendapat Kang Abik dalam “semacam prolog”nya dalam novel Ketika Cinta Bertasbih (2007),

“bagiku, tokoh Fahri itu justru masih kurang sempurna. Harus aku sempurnakan lagi. Dia harus lebih berjiwa malaikat ketimbang yang sudah ada, Kupikir, orang-orang kita bangsa Indonesia ini menilai Fahri terlalu sempurna, karena selama ini mereka tidak pernah disuguhi bacaan dan tontonan dengan kualitas perilaku seperti Fahri. Disinilah yang kusayangkan.

Orang-orang kita selalu dicekoki tokoh-tokoh jahat saja dan tidak diberi perimbangannya. Dan secara tak langsung mereka termakan dengan cekokan itu. Sehingga seolah-olah di benak mereka tidak ada lagi orang yang baik di dunia ini. Kalo ada yang baik sedikit saja, dianggap aneh. Tidak hanya aneh, tapi malah dianggap sok suci, dan munafik. Ada orang tidak pacaran dinilai sok suci dan munafik. Ada kiai besar berfatwa benar dinilai sok suci. Inilah kualitas moral bangsa kita saat ini. Aku sangat prihatin kalau memikirkannya.” (Lihat pendapat Kang Abik tentang sastra yang tertulis dalam buku, Fenomena Ayat Ayat Cinta)

Sependapat! Pemikiran seperti inilah yang selama ini saya tunggu-tunggu. Pendapat ini demikian mempengaruhi saya. Sayapun sangat mendukung pendapat ini. Betapa kualitas moral bangsa kita saat ini memang sedang rusak seperti yang digambarkan oleh pendapat Kang Abik diatas. Sungguh tulus saya pikir, usaha yang dilakukan Kang Abik sebagai upaya penyadaran publik. Namun sekali lagi saya harus tersentak ketika mengetahui Novel ini akan diadaptasi oleh sebuah film dengan judul serupa. Mungkin seperti halnya kawan-kawan yang lain, saya sangat meragukan kesuksesan film ini. Kesuksesan yang bukan diukur dalam banyaknya orang yang menonton, jumlah tiket yang terjual, panjangnya antrian di bioskop, atau sold-outnya tiket hingga pecahnya rekor penonton. Bukan, bukan itu! Kesuksesan yang saya maksud adalah kesuksesan adaptasi. Kesuksesan dimana Film ini mampu menjawab secara tuntas keraguan-keraguan yang muncul akan layak tidaknya karya ini difilmkan.

Meski ngga tega, Saya putuskan untuk menonton film ini. Sekedar untuk memberikan proporsi penilaian yang berimbang dan menghindari suudzon. Jangan-jangan hanya karena ke-parno-an saya, maka film ini langsung saya anggap jelek! Tetapi… Setelah menonton, Saya benar-benar sangat kecewa. Kecewa! Betul-betul kecewa!

Fahri, Aisha, Maria dan beberapa tokoh lain dibuat sangat “berbeda” dengan versi novelnya. Berbeda dalam artian lebih buruk. Fahri (Fedi Nuril) dibuat seperti pemuda yang biasa-biasa saja bahkan terlihat linglung dan seperti tidak punya arah. Aisha (Rianti Cartwright), bahkan terlihat temperamen, emosional, dan sangat curigaan. Maria (Carissa Putri) sendiri? Sudah genit, suka ngumpul dengan pemuda-pemuda, bertato pula! Waduh!

Sebenarnya, banyak sekali kritik atas skenario film AAC, namun tidak perlu saya tuliskan, karena hampir semuanya sudah dituliskan lebih dulu oleh teman-teman lain seperti White Jack yang juga merasa novel AAC diperkosa disini. Bahkan dia mengungkap keberatan-keberatannya dan tanya-jawabnya dengan Mas Hanung atas Film AAC.

Diantara semua kritik, ada sebuah langkah yang sangat tepat dilakukan oleh Mas Hanung dan Kang Abik. Menghilangkan scene yang berisi peristiwa gaibiyah, menurut saya memang sepantasnya dilakukan. Mengingat film adalah konsumsi berbagai orang dengan tingkatan pemahaman dan ideologi berbeda. Jujur, saya sebenarnya justru menantikan bagaimana mereka me-redefine peristiwa gaibiyah yang diceritakan didalam novel, kedalam sebuah wujud audio-visual yang sangat terbatas dan bisa saja akan sangat bias dalam menafsirkan peristiwa semacam itu. Seperti yang saya bicarakan sebelumnya bahwa memang, tidak semua karya sastra mampu dicetak kedalam sebuah bentuk komunikasi audio-visual film. Inilah mungkin yang menjadi salah satu alasannya.

Di sisi cerita, saya menyukai plot yang Mas Hanung (atau Kang Abik?) buat diluar novel. Scene-scene itu cukup menghibur meski tidak ada dalam novel. Tapi ingat! Hanya di sisi cerita. Saya tetap tidak membenarkan adegan sentuhan non-muhrim dalam film ini. Jika saja ini diangkat menjadi sebuah novel baru, saya pikir ini akan cukup bagus.

Sekali lagi, film sepertinya memang sangat sulit untuk dijadikan media dakwah Islam. Terbukti dengan dilanggarnya larangan bersentuhan antar lain jenis diluar yang muhrim. Anda tentu belum lupa akan adegan “malam pertama” Fahri dan Aisha, juga adegan cium kening Fahri dan Maria dan banyak lagi scene lain yang saya pikir melampaui batas. Ya! Melampaui batas! Sebelum Anda protes, saya mohon agar jangan bandingkan film ini dengan film atau sinetron lain yang jauh lebih banyak menampilkan adegan yang juga jauh lebih parah. Tentu saja dalam perbandingan ini, AAC akan terlihat seperti kaos oblong dibandingkan dengan tank-top atau bikini!. Tapi tetap saja, meski lebih baik, Kaos Oblong itu masih memperlihatkan aurat, bukan?

Wallahu Alam, saya pribadi tentu tidak tahu menahu akan maksud dan niat Kang Abik mengizinkan novelnya difilmkan. Mungkin hanya Allah dan Kang Abik sendiri yang tahu. Namun, semoga Kang Abik mengambil langkah ini dengan niat yang diridhai Allah SWT.

F. I. Ilyas

Seorang awam pecinta novel Ayat-Ayat Cinta


Actions

Information

7 responses

25 04 2008
ikhlas shakira

sudah bagus kok
saya nonton 4 kali
emang pendapat beda-beda…..
tapi saya ga bosan nonton

walopun beda jauh dari novelnya………
sudahlah……
ga usah menghina karya orng lain
toh belum tentu kita bisa berkarya sehebat itu
di tonton 2 jt lebih penonton

25 04 2008
nina

at last…ada yang bisa menjelaskan maksud “worthed ga sih?” antara novel dan film AAC…spontaneous and honest! keep it up!

7 06 2008
novee

hihi.. tumbenan lo srius amit, sob.. jd kliatan ky org bener gituh.. hihiii..
kl gw seh.. kata gw neh.. gw ga suka ntn pilem nyah..
gw ntn, itupun krn dibayarin.. kl byr sndr sih males deh..
coz blm ntn pun gw dah kebayang ga bakal liat spt yg gw kira..
penonton emang banyak, itu wajar, secara novelnya fenomenal skali, jd banyak org yg pengen tau..
tp utk kualitas alur pilem plus pemain nya..? hmmm.. kaga lah.. kata gw sih ngga banget..
sori lho buat komentator yg atas ntuh.. jgn marah ama gw gara2 kita beda pendapat.. piiizzz..

9 07 2008
malaysian observer

seratus peratus sependapat ngan blogger…

honestly…
aktor+cinematography nya enggak seiringan…..sepertinya kisah cinta biasa yg cuba di islamisation aja…

28 07 2008
epalhijau

salam…teman dari malaysia..
aku bersetuju dengan komen yang anda sampaikan. Aku mempunyai novel AAC yang kakak ku beli versi Malaysia..
Walaupun aku masih belum bersempatan untuk membacanya tetapi apabila aku menonton filem AAC, ku rasakan watak Fahri tidak seharusnya begitu simple dan mana kebaikan2 yang ada dalam diri fahri.
Filem itu kosong seperti cerita2 cinta yang biasa sahaja.
Kini..aku sedang berusaha menghabiskan novel AAC yang ku rasakan lebih feeling daripada filemnya..

24 05 2009
Lia

Halo, mas, tulisannyamau aku jadiin bahan referensi skripsi ya mas, tentang kekecewaan seseorang terhadap film adaptasi…, boleh ya…:)

11 06 2009
Astrajingga

Ah, saya baca bukunya nggak menarik banget. Pas ketemu kutipan ayat Quran yang tidak ditafsir dengan kritis atau kreatif, atau secara kontekstual atau artistik/estetik, rasanya seperti baca buku teks agama aja. Doktriner dan dogmatis. Bukunya nggak pernah saya baca tuntas, karena saya coba baca loncat-loncat cari bagian yang menarik–dengan harapan bisa menumbuhkan ketertarikan saya pada AAC, ternyata saya tidak menemukan satu halaman pun yang cukup menarik bagi saya.

Filmnya–lebih parah lagi. Saya tidak tertarik sama sekali untuk menontonnya. Lihat trailernya saja rasanya saya seperti berada di pengajian ibu-ibu RT. Monoton dan membosankan. Saya heran bahwa selera penonton Indonesia, nyatanya, justru amat menggilai film ini, bahkan juga SBY.

Ini pendapat saya pribadi. Tentu saja tidak mewakili mayoritas penonton Indonesia, apalagi mewakili umat. Apalagi, secara pribadi, walaupun di KTP tertulis agama Islam, saya sendiri adalah seorang atheis. (Saya pernah meminta petugas kelurahan untuk mengosongkan kolom agama pada KTP saya, atau tulis sekalian: Atheisme sebagai agama–kontradiktif bukan, tapi dia bilang tidak bisa).

Bukannya saya tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau islam atau agama. Saya suka sekali membaca tentang sejarah agama, filsafat agama saya suka baca. Ali Ashgar Engineer, Ziaudin Sardar, dari Indonesia misalnya H. Misbach atau Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib. Nurcholish Majid juga menarik.

Tapi sumpah, AAC buat saya basi banget.

Leave a comment