Lagi, Kasus Jiplak Blog!

6 05 2008

Setelah seharian ini tidak melakukan kunjungan kenegaraan ke salah satu Must-Visit Blog milik Cosa Aranda, (seorang mahasiswa S1 yang seperti saya juga belum selesai-selesai) akhirnya saya memutuskan untuk mampir sejenak untuk sekedar melihat-lihat keramaian yang ada. Biasanya postingan-postingan Senior yang satu ini kadang memberikan inspirasi di kala saya sedang sepi order dan sepi inspirasi. Dan ternyata feeling saya benar! Ada kehebohan disana.

Ceritanya, ada seseorang yang tinggal di Jogja dan kuliah di S2 MIPA Ilmu Komputer UGM yang menulis buku yang berjudul “Google AdSense: Mudah Meraih Dolar di Internet“, terbitan MediaKom (Januari 2008). Lah? apa serunya? Nulis buku kok heboh? Bukannya yang heboh tuh kalo nulis Kitab Suci Baru!!! Hehehe.

Back to the topic!

Nah, usut punya usut, ternyata Mahasiswa S2 (yang kabarnya bernama Fajar Y S Zebua) ini menulis buku yang beberapa babnya ternyata dicomot mentah-mentah dari artikel blog milik Cosa Aranda. Dan parahnya lagi, diterbitkan dengan tujuan komersil Tanpa Ijin yang bersangkutan!

Satu hal yang membuat saya tersenyum adalah permintaan maaf sang plagiator lewat media Iklan Baris. Aduh!

Read the rest of this entry »





Sandra Dewi Ngeblog, You Think?

4 05 2008

Sandra DewiBertambah lagi satu Selebritis Indonesia yang ngeblog. Setelah Violin Kondang favorit saya Maylaffayza dan Dian Sastro, Kini giliran Sandra Dewi yang ikut berblogging-ria. Entah apa yang jadi motivasinya. Tetapi, apapun itu, Selamat Datang di Blogosphere Indonesia.

Satu hal yang jelas! Visitor Blognya sebagian besar akan dipastikan adalah kaum lelaki…

Ditampilkan dengan warna dominan pink membuat blog Sandra Dewi terlihat sangat girly. Foto-foto yang ditampilkannya juga membuat blog ini khas selebriti. Yang membuat saya iri adalah Online User-nya, Pada saat saya menulis postingan ini, tercatat 53 user online! Hmmm… Selebriti… Namun, jika kita berbicara content, maka jangan berharap terlalu banyak… Jangan dibandingkan dengan Dian Sastro, apalagi membandingkannya dengan Wimar Witoelar… Lah?

Meski termasuk pengagum Sandra Dewi, saya kok sepakat dengan ulasan Ndoro Kakung yang dengan lugasnya mengatakan,

“…Kalau sampean mau lihat berbagai pose tubuh Sandra, keinginan sampean bakal terpuaskan. Tapi, jika sampean mau melihat pose pikiran, ide, dan gagasannya, sampean bakal kecele…”

Read the rest of this entry »





Lelucon Google untuk Sang You Know Who!

3 05 2008

Blogwalking hari ini berakhir dengan penemuan sebuah artikel yang sangat lucu dari Mas Eko. Sebenarnya artikel ini saya temukan dari seorang Professor yang suka nongkrong sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Telusur punya terlusur, ternyata artikel sumbernya memang dari Mas ini.

Nah, what’s the news? Ternyata 68% lelucon dibuat untuk Sang You Know Who.

Begini ceritanya,…

ah, ngga jadi ah…

Daripada cerita panjang lebar, mending anda coba sendirilah…

1. Buka Google.co.id dan ketikkan Temukan Roy Suryo pada kolom textnya seperti gambar dibawah ini.

Temukan Roy Suryo

2. Klik tombol Saya Lagi Beruntung, dan…. Voila!!! cek sendiri aja deh…

Nah, mudah2an, lelucon ini long-lasting. Tapi bagi anda yang tidak lagi menemukan kelucuannya, silahkan temukan sendiri disini atau lihat screenshotnya disini.

Saran : Bukan untuk konsumsi yang bersangkutan. Bisa-bisa saya kena tuduhan melanggar UU ITE lagi… hihihi..

F. I. Ilyas





Pathetic Indonesian Reality Show

3 05 2008

Super M.....Saya bukanlah seorang yang MTV (Maniak Televisi). Namun tergerak juga akhirnya untuk menulis artikel ini setelah melihat beberapa tayangan TV (khususnya yang mereka sebut Reality Show) yang minta ampun menyedihkan. Yang membuat lebih sedih lagi, tayangan yang menurut saya tidak mendidik dan berdurasi amat sangat panjang ini (bayangkan dari jam 18.00 hingga tengah malam, waahhh) justru memiliki rating yang tinggi, populer dan diminati.

Mereka menamakannya Acara Mama-mamaan… Super-superan… dan banyak lagi anu-anuan lain. Bukannya sirik, tapi lama-lama gerah juga melihat acara-acara semacam ini. Program yang didesain UUD (Ujung-ujungnya Duit) semacam ini, membuat saya bingung. Dimana letak sisi edukasinya? Apakah sudah sedemikian parahnya karakter penonton TV Indonesia? Nah, mungkin inilah potret keterbelakangan negeri ini. Bagaimana tidak, acara buruk seperti itu saja mendapat rating tertinggi bergantian dengan sinetron. Jadi, bagaimana Supermama seharusnya?

Sebenarnya tidak akan ada masalah selama acara berkonsep Popularity Contest semacam itu bisa menghadirkan kontestan yang betul-betul kapabel. Lah ini? Cenderung terkesan amat sangat dipaksakan. Eksploitasi? mungkin saja. Toh, kebanyakan kontestannya hanya memiliki kemampuan pas-pasan yang ditunjang oleh tampang cantik atau sebaliknya kemampuan yang cukup bagus, namun memiliki kekurangan fisik yang dibesar-besarkan (baca:dimanfaatkan) untuk menarik simpati.

Seperti halnya acara-acara TV yang lain, ada yang pro dan ada yang kontra. Saya membaca sebuah komentar pada diskusi tentang acara-acara seperti ini di sebuah forum. Isinya sangat menyedihkan. Kira-kira seperti ini :

Kl bosen, ganti channel ajaa…
Ato matiin tipi..
Gampaaaankk kaan…
Jangan dibikin sussaaah..
Hidup udah susah koq dibikin susseeeh yaaa…

Nah, saya pikir, ada betulnya juga. Tapi, kalau semua berpikir seperti ini, bangsa kita akan seperti apa ya?

Benarkah tayangan seperti ini hanya menjual mimpi? Read the rest of this entry »





Desainer Grafis Indonesia ; Dihargaikah?

26 04 2008

dollar brushBagi banyak orang diluar profesi ini, Graphic Artist atau yang lebih terkenal dengan sebutan Graphic Designer (Desainer/Perancang Grafis – pen) adalah profesi yang dianggap keren, “basah” dan dibayar mahal, santai, tidak terikat waktu, atau sangat menyenangkan. Benarkah demikian?

Sejak 2002 hingga sekarang dimana saya berkecimpung di bidang ini sebagai freelancer, anggapan-anggapan diatas memang ada juga benarnya. Kadang-kadang ketika saya berkenalan dengan seorang kolega, menyebutkan pekerjaan saya sebagai Desainer Grafis memang cukup membanggakan. tidak semua orang memiliki keahlian seperti saya saya miliki. Faktor Independensi adalah salah satunya. Terlepas dari keinginan client, I really am my own boss!. Bukan begitu?

Kecuali dengan Deadline, Profesi ini bisa dibilang tidak terikat waktu. Saya bisa bangun kapan saja saya mau, kerja kapan saja saya mau, tidak harus pake dasi dan segudang “ketidak-harusan” lain. Saya juga tidak menafikan bahwa profesi ini sangat menyenangkan karena memang sebuah seni (dalam hal ini seni grafis) adalah salah satu hobi, interest dan kesenangan saya. Jika sedang mood dan on-fire, Pekerjaan setumpukpun bisa selesai dalam waktu semalam. Saya yakin profesi-profesi lain pun serupa jika benar-benar merupakan interest dari individunya. Namun, apakah semua itu sebanding dengan kompensasi yang para Desainer Grafis (di Indonesia) terima? Read the rest of this entry »





Iklan RONCAR ; Taste atau Strategi?

25 04 2008

RONCAR versi SendalAnda pernah menyaksikan iklan Chip Anti-Maling yang satu itu?

Kalau iya, bagaimana pendapat anda?

Ketika saya mencoba menanyakan kepada teman-teman, komentar yang muncul sangat beragam. Ada yang bilang buruk, sangat buruk, jelek, jelek abis, amat sangat jelek, jadul, murahan, malu-maluin, kampungan, katro dan berbagai komentar negatif lain. Tapi tak satupun komentar positif yang saya dengar.

Namun, Jika pertanyaan tadi ditujukan pada saya maka jawaban yang akan saya keluarkan adalah berupa pertanyaan lagi. Pendapat saya dilihat dari sisi mana? Saya adalah orang awam di dunia seni. Tetapi jika ditinjau dari sisi seni (sinematografi), saya yakin iklan RONCAR adalah produk seni yang gagal! (Ingat, yang produk seni yang gagal itu iklannya ya!). Sama sekali tidak ada taste seni disana. Entah karena iklan ini low-budget atau karena memang itu strategi marketing dari RONCAR sendiri, Wallahu Alam

Jujur saja, melihat iklan itu membuat saya merasa berada di medio ’90an dimana satu-satunya pilihan stasiun televisi terjangkau hanyalah TVRI. Ngga banget! Apakah sudah sedemikian low-budgetnya RONCAR hingga hanya mampu membuat iklan seperti itu? Saya pikir tidak. Durasi yang cukup lama, penempatan iklan di area primetime, dan frekuensi penayangan yang cukup intense di televisi-televisi swasta terkemuka itu dijamin memakan budget sangat besar! Apalah artinya jika dibandingkan dengan Biaya Produksi iklan (berdurasi kurang dari 5 menit) yang saya pikir tidak akan sebesar biaya penayangan iklan yang frekuensinya lumayan intense.

RONCAR Pelit? jangan tanya saya. kalo ini, saya tidak tahu sama sekali dan saya juga tidak mau bergosip! Read the rest of this entry »





Film Ayat-ayat Cinta ; Adaptasi Gagal?

24 04 2008

Ayat-ayat CIntaBismillahirrahmanirrahiim

Sebelumnya “berbicara” terlalu banyak, saya memohon maaf dulu terlebih dahulu jika ada pihak-pihak yang tidak menyukai tulisan saya ini. Ini adalah murni pendapat saya yang notabene hanyalah seorang penikmat film belaka. Anda boleh setuju atau tidak setuju. Silahkan berpendapat sesuka anda, toh setahu saya sampai saat ini, berpendapat masih gratis kok.

Baik, kita mulai saja…

Novel Ayat-ayat Cinta (AAC) karangan Habiburrahman El-Shirazy (Kang Abik) pertama kali diperkenalkan di medio tahun 2005. Kala itu memang dunia penulisan Indonesia didominasi oleh serbuan chicklit dan teenlit dengan tema beragam. Saya sangat ingat ketika itu, memang banyak sekali chicklit dan teenlit yang beredar di pasaran buku. Ingatan saya bahkan masih segar dengan warna-warninya susunan ratusan chicklit dan teenlit dalam sebuah rak buku di sebuah Taman Bacaan di bilangan Setiabudi, Bandung. Sesuai target segmentnya yang menyasar kalangan remaja, warna-warni yang ngejreng ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi kartun vektor memang menjadi ciri khas novel-novel jenis ini.

Terus terang, saya memang sedikit tergerak untuk membaca chicklit dan teenlit (meski saya jelas-jelas bukan chick dan teen). Tapi apa yang terjadi setelah membacanya? Saya sontak berpikir, apakah dunia sastra Indonesia akan kembali padam seperti padamnya per-film-an Indonesia? Ingatan saya kembali melayang ke era 90-an dimana novel-novel Indonesia dihiasi oleh karya-karya novel picisan pengumbar syahwat.

Terbitnya novel AAC kemudian menjawab kerinduan (jika boleh disebut begitu) saya akan karya sastra domestik berkualitas. Jujur saja, meski awam sastra, menurut saya novel ini sangat bagus, sangat menyentuh dan membumi. Keterkejutan saya muncul saat membaca kabar bahwa novel AAC akan difilmkan. Pertanyaan yang pertama muncul adalah “Apakah novel ini akan ikut latah?” Ngga apa-apa kalo latah kemudian hasilnya bagus, tapi kalau ancur??? Read the rest of this entry »